Senin, 08 April 2013

Etika Profesi Dan Wawancara Kerja


Permasalahan etika dalam wawancara kerja terkadang menjadi sebuah dilemma, dimana banyak artikel atau diskusi yang terlalu terkesan menyudutkan posisi si pelamar sebagai orang yang membutuhkan. Hal ini menjadi menarik buat saya ketika yang saya alami di kenyataan adalah kondisi di mana yang justru perlu untuk ditelaah lebih lanjut tentang etikanya adalah sang pewawancara, yang merupakan perwakilan perusahaan. Lebih lanjut saya akan share dalam sebuah cerita yang dialami oleh partner saya.

Sekitar 5 bulan lalu salah satu perusahaan retail terbesar di Indonesia, METRO, membuka lowongan untuk posisi Social Media Cordinator untuk group Metro Departement Store. Lalu partner saya, yang juga merupakan founder dari Greenmind Social Media Agency, tertarik untuk mencoba melamar pada posisi tersebut. Lalu setelah beberapa hari dipanggilah dia untuk sebuah sesi interview di kantor Metro Dept. Store di Mall Pondok Indah 1. Seperti halnya kantor-kantor dept. store lainnya, kantor Metro Dept. Store ini juga terbilang agak kurang representatif. Posisinya yang dibelakang seolah-olah kita sedang berurusan dengan bagian gudang. Dengan langkah tegap partner saya datang untuk memenuhi panggila interview tersebut. Melewati tangga, dan lorong-lorong akhirnya ia tiba di meja security, yang entah mengapa menurut partner saya melihatnya agak sedikit melecehkan (baca: menggoda), dengan kata-kata yang agak kurang etis. Hal ini mungkin karena memang banyak yang melakukan wawancara kerja di kantor tersebut adalah untuk posisi SPG staff atau SPB staff. Berhubung partner saya ini seorang wanita, makan kemungkinan si satpam berasumsi bahwa ia adalah seorang SPG yang hendak melakukan interview kerja. Pada panggilan pertama ia ditemui dengan seorang manajer HRD. Dalam wawancara tersebut lebih banyak membahas soal teknis administrative pekerjaan sebagai karyawan Metro Dept. Store. Dan sang manajer HRD juga mengakui bahwa ia kurang paham masalah Social Media, dan menyerahkan kepada user, yang merupakan seorang kewarganegaraan asing pada sesi wawancara berikutnya. Setelah selesai wawancara sesi pertama tersebut, ia harus menunggu kurang lebih sebulan untuk sesi wawancara sesi kedua dengan seorang expat yang sepertinya cukup memahami permasalahan Social Media dan PR. Hingga hari yang dinanti pun tiba, partner saya tiba di kantor yang sama sekitar sebulan kemudian untuk wawancara tersebut. Dan kedaan yang sama pun dialami olehnya, mulai dari kegenitan satpam hingga sambutan yang sangat kurang etis oleh bagian front desk. Kondisinya saat itu partner saya ini sedikit terlambat (12 menit) dari jadwal (pukul 14.00). Dengan nada yang kurang menyenangkan sang penerima tamu berkata “jadwalnya jam 2 yah?? Kok terlambat?” lalu partner saya menjawab dengan nada yang agak sinis “saya ditahan oleh satpam untuk urusan KTP dan lain-lain, lalu saya harus naik tangga ke lantai ini, lalu sebelumnya dengan terpaksa saya harus ke toilet, dan saya telat 12 menit. IS THAT A PROBLEM WITH YOU?”. Karena memang, harus diakui, posisi si penerima tamu itu tidak selayaknya menanyakan perihal keterlambatan, karena memang partner saya tidak sama sekali ada urusan dengan si penerima tamu tersebut. Dan sangat tidak sopan dan tidak etis untuk bertanya hal tersebut kecuali memang keterlambatannya hingga berjam-jam. Inilah salah satu permasalahan pelayanan dan public speaking yang menurut saya terlalu mudah untuk diacuhkan sehingga banyak orang tidak sadar akan pentingnya kualitas pelayanan.
Lanjut ke proses wawancara: yang seharusnya wawancara itu dengan seorang expat dan pada undangan wawancara tersebut partner saya diharuskan untuk mempersiapkan diri untuk sebuah sesi wawancara dengan seorang warga Negara asing dan berwawancara dalam bahasa inggris.  Namun saat berada di ruang wawancara ada tiga orang wanita dan ini membuat partner saya cukup terkejut karena ia memang mempersiapkan untuk wawancara ini dengan baik, termasuk untuk soal berbahasa inggris yang baik dan benar dalam kaidah bisnis. Yang terjadi adalah, sebuah sesi wawancara dengan pertanyaan-pertanyaan yang sangat tidak bermutu dan seolah-olah terkesan menguji nalar partner saya. Yang mana partner saya adalah seorang social media strategist yang memang sudah cukup berpengalaman dengan proses social media activity untuk beberapa brand fashion lokal, dan sebelumnya ia juga merupakan seorang Fashion and Beauty editor untuk majalah-majalah fashion terkemuka di Indonesia, mulai dari group Femina, MRA, Female, bahkan hingga Kompas-Gramedia group dan Mahak Media. Ketika yang dihadapi dalam wawancara tersebut hanyalah orang-orang yang sangat tidak kompeten maka partner saya merasa bahwa ini seperti sebuah pelecehan terhadap profesi dan proses wawancara kerja. Untuk seorang professional seperti partner saya sudah selayaknya mendapatkan kesempatan untuk sebuah sesi wawancara dengan user yang memang mengerti betul tentang bidang pekerjaan yang akan dilakukan. Namun yang terjadi muncullah pertanyaan-pertanyaan konyol yang memang tidak ada hubungannya dengan social media strategy, dan seolah-olah tiga orang pewawancara itu berusaha keras untuk melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang terkesan menjebak namun ternyata hanya sebuah pertanyaan yang tidak jelas apa. Sungguh hal ini terasa semakin ironis ketika tiba di pertanyaan terakhir dalam wawancara, yang seharusnya serius, ini yaitu “Dalam kehidupan ini, jika kamu dapat memilih untuk mendapatkan satu hal, apapun itu, apa yang akan kamu pilih”.. dilanjutkan dengan selingan pernyataan “jangan minta jodoh ya.. hahahaha (tertawa garing)” what kind of question is that?  Mungkin untuk wawancara tingkat staff pertanyaan itu terdengar psikis dan menjebak, namun yang ada justru pertanyaan itu terdengar bodoh ketika dilontarkan saat mewawancara seorang professional. Karena harusnya pada proses wawancara seperti ini yang menjadi pembahasan hanyalah berkutan pada masalah teknis, strategis, dan action plan, yang mana itu tidak dapat terpecahkan dalam wawancara ini karena memang si pewawancara juga tidak mengerti sama sekali soal social media activity. So,  inilah masalah berikutnya dalam hal social media activity, dimana banyak perusahaan, atau karyawan perusahaan, yang merasa mengerti tentang social media activity padahal mereka tidak ad aide sama sekali tentang prosesnya, teknisnya bahkan hingga filosofi dan analisisnya. Dan ironisnya hal ini berujung pada sebuah kesimpulan yang miris bahwa social media HANYALAH sebuah aktifitas menyenangkan di internet dan tidak ada tujuan untuk socializing the company sama sekali. Banyak perusahaan juga yang berkoar membuka peluang kerja di Indonesia dengan iklan yang berbunyia kurang lebih demikian : DICARI SOCIAL MEDIA SPECIALIST, PENGALAMAN 3 TAHUN. Pada faktanya social media activity di Indonesia baru terjadi kurang lebih 1,5 tahun belakangan. Bahkan intensitasnya baru terjadi pada akhir 2011. Jadi untuk menemukan seorang expert di bidang social media dengan pengalaman  3 tahun merupakan hal yang sangat sulit dan bahkan tidak ada. Hal ini pernah saya bahas dengan seorang sahabat saya yang juga seorang social media strategist dari sebuah website terkemuka di Jakarta, dan beliau pun berpendapat sama dengan saya. Lalu saya juga sempat berdiskusi dengan seorang digital media marketer dari sebuah advertising agency internasional yang berkantor di Jakarta, dan beliau juga berpendapat sama. Social Media kemudian menjadi terlalu jenuh, dimana sudah terlalu banyak pihak yang ingin berbagi kue yang sama, sementara kuenya tidak berubah ukuran. Ya memang tulisan saya ini jadi merembet kemana-mana hahaha.. karena memang sudah terlau banyak hal yang harus diluruskan di negeri ini, sehingga jika kita berbicara tentang satu masalah, maka masalah lainnya senantiasa mengikuti dan mencuat ke permukaan. Ironis.

Jadi kembali ke permasalah etika wawancara kerja, ada baiknya jika pada proses wawancara kerja, si pewawancara juga bisa menghargai waktu yang sudah diluangkan oleh si terwawancara. Terlebih jika proses wawancara ini melibatkan seorang professional yang tentu terkadang tidak punya banyak waktu. Seperti pembatalan sepihak secara tiba-tiba atau sudah mendekati hari-H sebaiknya dihindari dan pewawancara sebaiknya bisa lebih arif dalam mengatur jadwalnya. Tetapi tidak juga serta merta menyerahkan tanggungjawab wawancara ke bawahan atau orang yang sesungguhnya tidak memahami betul konteks dari pekerjaan yang bersangkutan.

Pengalaman lainnya adalah ketika saya hadir untuk sebuah sesi wawancara di sebuah perusahaan penyiaran yang berkantor di kawasan CIKARANG. Saat itu saya diundang untuk sesi wawancara untuk posisi media relation manager. Ya, posisinya adalah manager, jadi tentu saya tidak berharap sebuah sesi wawancara ecek-ecek. Saya tiba di kantor setelah menempuh kurang lebih 1,5 jam perjalanan dari Jakarta ke Cikarang pukul 10.00. lalu saya ikut registrasi untuk sesi wawancara, dan dilanjutkan dengan proses psycho test di sebuah ruangan dengan 3 kandidat lain. Dan ternyata kandidat lainnya untuk posisi yang berbeda. Setelah itu saya melakukan sebuah sesi wawancara dengan sorang HRD staff di ruangan tersebut. Lalu setelah itu saya dan kandidat lain diminta untuk menunggu sembari istirahat makan siang di kantin untuk panggilan berikutnya. Dan panggilan itu datang tepat pukul 2 siang. Ya, SANGAT LAMA. Lalu saya dipanggil untul wawancara dengan staff HRD lagi di ruangan yang berbeda. Lalu diujung wawancara itu si staff HRD ini berkata ada satu lagi wawancara terakhir dengan user yaitu seorang manager. Maka saya menunggu, lalu kemudian muncul informasi terkini dari si staff HRD yang berkata, si manager sedang RAPAT dan kami dimohon untuk menunggunya. Kondisinya saat itu sudah pukul 4. Lalu dengan langkah tegap saya hampiri si staff HRD itu dan berkata “mba, mending untuk saya di-reschedule ajah deh. Saya sudah seharian di sini dan saya masih harus nunggu yang interview saya rapat sampe jam berapa ga jelas. Atau sekalian saya mundur ajah deh. Terima kasih banyak”. Yang saya rasakan adalah, si manager ini kurang bisa menghargai waktu, terutama waktu orang lain. Saya dan kandidat lainnya sudah meluangkan begitu banyak waktu untuk sesi wawancara ini dan si pewawancara justru tidak hadir dengan alasan rapat. Buat saya itu cukup konyol, karena untuk wawancara ini saya sudah diundang kurang lebih 3 minggu sebelumnya, jadi seharusnya jadwal untuk si pewawancara ini sudah fixed. Memang kita tidak pernah tau  apa yang akan terjadi kedepan, namun dari sini saya juga bisa menyimpulkan bahwa perusahaan ini bukanlah perusahaan yang bisa menghargai pekerjanya. Karena menurut saya, dan saya pernah berada di posisi sebagai pewawancara, pewawancara harusnya sudah meluangkan jadwal untuk sesi wawancara dan harus bisa menunjukkan komitmen pada jadwal tersebut kecuali untuk force majeur dan tentu para pimpinan perusahaan bisa mengerti akan kondisi ini. Namun sayangnya masih begitu banyak perusahaan yang tidak sadar akan hal ini. Inilah salah satu penyebab semakin lebarnya gap antara pemberi pekerjaan dan pencari pekerjaan. Dimana sekarang kondisinya sudah sangat sulit bagi perusahaan untuk mencari pekerja yang memang sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhannya. Dilematis memang.

Ya, ini hanya sekedar uneg-uneg saya sebagai seorang pekerja. Semoga ada yang membaca dan sedikit tergelitik untuk tertarik akan hal ini. Maaf tulisan saya tidak rapih, harap maklum karena saya sudah sangat lama sekali tidak menulis.  

Sekian.

Terima kasih. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar