Permasalahan etika dalam
wawancara kerja terkadang menjadi sebuah dilemma, dimana banyak artikel atau
diskusi yang terlalu terkesan menyudutkan posisi si pelamar sebagai orang yang
membutuhkan. Hal ini menjadi menarik buat saya ketika yang saya alami di
kenyataan adalah kondisi di mana yang justru perlu untuk ditelaah lebih lanjut
tentang etikanya adalah sang pewawancara, yang merupakan perwakilan perusahaan.
Lebih lanjut saya akan share dalam sebuah cerita yang dialami oleh partner
saya.
Sekitar 5 bulan lalu salah satu
perusahaan retail terbesar di Indonesia, METRO, membuka lowongan untuk posisi
Social Media Cordinator untuk group Metro Departement Store. Lalu partner saya,
yang juga merupakan founder dari Greenmind Social Media Agency, tertarik untuk
mencoba melamar pada posisi tersebut. Lalu setelah beberapa hari dipanggilah
dia untuk sebuah sesi interview di kantor Metro Dept. Store di Mall Pondok
Indah 1. Seperti halnya kantor-kantor dept. store lainnya, kantor Metro Dept.
Store ini juga terbilang agak kurang representatif. Posisinya yang dibelakang
seolah-olah kita sedang berurusan dengan bagian gudang. Dengan langkah tegap
partner saya datang untuk memenuhi panggila interview tersebut. Melewati
tangga, dan lorong-lorong akhirnya ia tiba di meja security, yang entah mengapa
menurut partner saya melihatnya agak sedikit melecehkan (baca: menggoda),
dengan kata-kata yang agak kurang etis. Hal ini mungkin karena memang banyak
yang melakukan wawancara kerja di kantor tersebut adalah untuk posisi SPG staff
atau SPB staff. Berhubung partner saya ini seorang wanita, makan kemungkinan si
satpam berasumsi bahwa ia adalah seorang SPG yang hendak melakukan interview
kerja. Pada panggilan pertama ia ditemui dengan seorang manajer HRD. Dalam
wawancara tersebut lebih banyak membahas soal teknis administrative pekerjaan
sebagai karyawan Metro Dept. Store. Dan sang manajer HRD juga mengakui bahwa ia
kurang paham masalah Social Media, dan menyerahkan kepada user, yang merupakan
seorang kewarganegaraan asing pada sesi wawancara berikutnya. Setelah selesai
wawancara sesi pertama tersebut, ia harus menunggu kurang lebih sebulan untuk
sesi wawancara sesi kedua dengan seorang expat yang sepertinya cukup memahami
permasalahan Social Media dan PR. Hingga hari yang dinanti pun tiba, partner
saya tiba di kantor yang sama sekitar sebulan kemudian untuk wawancara
tersebut. Dan kedaan yang sama pun dialami olehnya, mulai dari kegenitan satpam
hingga sambutan yang sangat kurang etis oleh bagian front desk. Kondisinya saat
itu partner saya ini sedikit terlambat (12 menit) dari jadwal (pukul 14.00).
Dengan nada yang kurang menyenangkan sang penerima tamu berkata “jadwalnya jam
2 yah?? Kok terlambat?” lalu partner saya menjawab dengan nada yang agak sinis
“saya ditahan oleh satpam untuk urusan KTP dan lain-lain, lalu saya harus naik
tangga ke lantai ini, lalu sebelumnya dengan terpaksa saya harus ke toilet, dan
saya telat 12 menit. IS THAT A PROBLEM WITH YOU?”. Karena memang, harus diakui,
posisi si penerima tamu itu tidak selayaknya menanyakan perihal keterlambatan,
karena memang partner saya tidak sama sekali ada urusan dengan si penerima tamu
tersebut. Dan sangat tidak sopan dan tidak etis untuk bertanya hal tersebut
kecuali memang keterlambatannya hingga berjam-jam. Inilah salah satu
permasalahan pelayanan dan public speaking yang menurut saya terlalu mudah
untuk diacuhkan sehingga banyak orang tidak sadar akan pentingnya kualitas
pelayanan.
Lanjut ke proses wawancara: yang
seharusnya wawancara itu dengan seorang expat dan pada undangan wawancara
tersebut partner saya diharuskan untuk mempersiapkan diri untuk sebuah sesi
wawancara dengan seorang warga Negara asing dan berwawancara dalam bahasa
inggris. Namun saat berada di
ruang wawancara ada tiga orang wanita dan ini membuat partner saya cukup
terkejut karena ia memang mempersiapkan untuk wawancara ini dengan baik,
termasuk untuk soal berbahasa inggris yang baik dan benar dalam kaidah bisnis.
Yang terjadi adalah, sebuah sesi wawancara dengan pertanyaan-pertanyaan yang
sangat tidak bermutu dan seolah-olah terkesan menguji nalar partner saya. Yang
mana partner saya adalah seorang social media strategist yang memang sudah
cukup berpengalaman dengan proses social media activity untuk beberapa brand
fashion lokal, dan sebelumnya ia juga merupakan seorang Fashion and Beauty
editor untuk majalah-majalah fashion terkemuka di Indonesia, mulai dari group
Femina, MRA, Female, bahkan hingga Kompas-Gramedia group dan Mahak Media.
Ketika yang dihadapi dalam wawancara tersebut hanyalah orang-orang yang sangat
tidak kompeten maka partner saya merasa bahwa ini seperti sebuah pelecehan
terhadap profesi dan proses wawancara kerja. Untuk seorang professional seperti
partner saya sudah selayaknya mendapatkan kesempatan untuk sebuah sesi
wawancara dengan user yang memang mengerti betul tentang bidang pekerjaan yang
akan dilakukan. Namun yang terjadi muncullah pertanyaan-pertanyaan konyol yang
memang tidak ada hubungannya dengan social media strategy, dan seolah-olah tiga
orang pewawancara itu berusaha keras untuk melontarkan pertanyaan-pertanyaan
yang terkesan menjebak namun ternyata hanya sebuah pertanyaan yang tidak jelas
apa. Sungguh hal ini terasa semakin ironis ketika tiba di pertanyaan terakhir
dalam wawancara, yang seharusnya serius, ini yaitu “Dalam kehidupan ini, jika
kamu dapat memilih untuk mendapatkan satu hal, apapun itu, apa yang akan kamu
pilih”.. dilanjutkan dengan selingan pernyataan “jangan minta jodoh ya..
hahahaha (tertawa garing)” what kind of
question is that? Mungkin
untuk wawancara tingkat staff pertanyaan itu terdengar psikis dan menjebak,
namun yang ada justru pertanyaan itu terdengar bodoh ketika dilontarkan saat
mewawancara seorang professional. Karena harusnya pada proses wawancara seperti
ini yang menjadi pembahasan hanyalah berkutan pada masalah teknis, strategis,
dan action plan, yang mana itu tidak dapat terpecahkan dalam wawancara ini
karena memang si pewawancara juga tidak mengerti sama sekali soal social media
activity. So, inilah masalah berikutnya dalam hal
social media activity, dimana banyak perusahaan, atau karyawan perusahaan, yang
merasa mengerti tentang social media activity padahal mereka tidak ad aide sama
sekali tentang prosesnya, teknisnya bahkan hingga filosofi dan analisisnya. Dan
ironisnya hal ini berujung pada sebuah kesimpulan yang miris bahwa social media
HANYALAH sebuah aktifitas menyenangkan di internet dan tidak ada tujuan untuk socializing the company sama sekali.
Banyak perusahaan juga yang berkoar membuka peluang kerja di Indonesia dengan
iklan yang berbunyia kurang lebih demikian : DICARI SOCIAL MEDIA SPECIALIST,
PENGALAMAN 3 TAHUN. Pada faktanya social media activity di Indonesia baru
terjadi kurang lebih 1,5 tahun belakangan. Bahkan intensitasnya baru terjadi
pada akhir 2011. Jadi untuk menemukan seorang expert di bidang social media
dengan pengalaman 3 tahun
merupakan hal yang sangat sulit dan bahkan tidak ada. Hal ini pernah saya bahas
dengan seorang sahabat saya yang juga seorang social media strategist dari
sebuah website terkemuka di Jakarta, dan beliau pun berpendapat sama dengan
saya. Lalu saya juga sempat berdiskusi dengan seorang digital media marketer
dari sebuah advertising agency internasional yang berkantor di Jakarta, dan
beliau juga berpendapat sama. Social Media kemudian menjadi terlalu jenuh,
dimana sudah terlalu banyak pihak yang ingin berbagi kue yang sama, sementara
kuenya tidak berubah ukuran. Ya memang tulisan saya ini jadi merembet
kemana-mana hahaha.. karena memang sudah terlau banyak hal yang harus diluruskan
di negeri ini, sehingga jika kita berbicara tentang satu masalah, maka masalah
lainnya senantiasa mengikuti dan mencuat ke permukaan. Ironis.
Jadi kembali ke permasalah etika
wawancara kerja, ada baiknya jika pada proses wawancara kerja, si pewawancara
juga bisa menghargai waktu yang sudah diluangkan oleh si terwawancara. Terlebih
jika proses wawancara ini melibatkan seorang professional yang tentu terkadang
tidak punya banyak waktu. Seperti pembatalan sepihak secara tiba-tiba atau
sudah mendekati hari-H sebaiknya dihindari dan pewawancara sebaiknya bisa lebih
arif dalam mengatur jadwalnya. Tetapi tidak juga serta merta menyerahkan
tanggungjawab wawancara ke bawahan atau orang yang sesungguhnya tidak memahami
betul konteks dari pekerjaan yang bersangkutan.
Pengalaman lainnya adalah ketika
saya hadir untuk sebuah sesi wawancara di sebuah perusahaan penyiaran yang
berkantor di kawasan CIKARANG. Saat itu saya diundang untuk sesi wawancara
untuk posisi media relation manager. Ya, posisinya adalah manager, jadi tentu
saya tidak berharap sebuah sesi wawancara ecek-ecek.
Saya tiba di kantor setelah menempuh kurang lebih 1,5 jam perjalanan dari
Jakarta ke Cikarang pukul 10.00. lalu saya ikut registrasi untuk sesi
wawancara, dan dilanjutkan dengan proses psycho test di sebuah ruangan dengan 3
kandidat lain. Dan ternyata kandidat lainnya untuk posisi yang berbeda. Setelah
itu saya melakukan sebuah sesi wawancara dengan sorang HRD staff di ruangan
tersebut. Lalu setelah itu saya dan kandidat lain diminta untuk menunggu
sembari istirahat makan siang di kantin untuk panggilan berikutnya. Dan
panggilan itu datang tepat pukul 2 siang. Ya, SANGAT LAMA. Lalu saya dipanggil
untul wawancara dengan staff HRD lagi di ruangan yang berbeda. Lalu diujung
wawancara itu si staff HRD ini berkata ada satu lagi wawancara terakhir dengan
user yaitu seorang manager. Maka saya menunggu, lalu kemudian muncul informasi
terkini dari si staff HRD yang berkata, si manager sedang RAPAT dan kami
dimohon untuk menunggunya. Kondisinya saat itu sudah pukul 4. Lalu dengan
langkah tegap saya hampiri si staff HRD itu dan berkata “mba, mending untuk
saya di-reschedule ajah deh. Saya sudah seharian di sini dan saya masih harus
nunggu yang interview saya rapat sampe jam berapa ga jelas. Atau sekalian saya
mundur ajah deh. Terima kasih banyak”. Yang saya rasakan adalah, si manager ini
kurang bisa menghargai waktu, terutama waktu orang lain. Saya dan kandidat
lainnya sudah meluangkan begitu banyak waktu untuk sesi wawancara ini dan si
pewawancara justru tidak hadir dengan alasan rapat. Buat saya itu cukup konyol,
karena untuk wawancara ini saya sudah diundang kurang lebih 3 minggu
sebelumnya, jadi seharusnya jadwal untuk si pewawancara ini sudah fixed. Memang
kita tidak pernah tau apa yang
akan terjadi kedepan, namun dari sini saya juga bisa menyimpulkan bahwa
perusahaan ini bukanlah perusahaan yang bisa menghargai pekerjanya. Karena menurut
saya, dan saya pernah berada di posisi sebagai pewawancara, pewawancara
harusnya sudah meluangkan jadwal untuk sesi wawancara dan harus bisa
menunjukkan komitmen pada jadwal tersebut kecuali untuk force majeur dan tentu para pimpinan perusahaan bisa mengerti akan
kondisi ini. Namun sayangnya masih begitu banyak perusahaan yang tidak sadar
akan hal ini. Inilah salah satu penyebab semakin lebarnya gap antara pemberi pekerjaan dan pencari pekerjaan. Dimana sekarang
kondisinya sudah sangat sulit bagi perusahaan untuk mencari pekerja yang memang
sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhannya. Dilematis memang.
Ya, ini hanya sekedar uneg-uneg
saya sebagai seorang pekerja. Semoga ada yang membaca dan sedikit tergelitik
untuk tertarik akan hal ini. Maaf tulisan saya tidak rapih, harap maklum karena
saya sudah sangat lama sekali tidak menulis.
Sekian.
Terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar