Senin, 22 Oktober 2012

Branding, Imaging, and Service

hahahahah.. mungkin judulnya terdengar terlalu "PINTAR" padahal sih tidak juga. Awalnya seperti ini, saya dan pasangan saya adalah orang yang sangat konsumtif, kami suka sekali memanjakan diri dan menikmati uang hasil jerih payah kami untuk sesuatu yang memang nikmat. Jadi alhasil, kami sering menghabiskan waktu untuk "bekerja" di cafe, restauran, atau lounge karena kami selalu merasa tempat-tempat inilah yang bisa memberikan ketenangan bagi kami. Namun, adakalanya kami menemukan bahwa beberapa tempat tersebut kadang tidak sesuai dengan ekspektasi kami, terutama soal pelayanan. Sejauh ini kami sering sekali mengajukan keluhan jika mengalami hal-hal yang tidak mengenakan dan tidak jarang kami menghubungi manager yang sedang bertugas jika memang sudah kelewatan dan jika belum puas dengan penanganan oleh sang manager, tidak sungkan kami berkicau di dunia maya. Salah satunya ketika saya makan di sebuah restauran steak di fX Sudirman beberapa waktu lalu, tepatnya saat bulan puasa. Karena semua tempat penuh, maka saya beserta partner memutuskan untuk makan di foodcourt, yang salah satu restorannya menyajikan ayam goreng. Saya pesan, dan setelah lebih dari setengah jam kemudian pesanan saya datang. Dalam keadaan lapar saya makan, dan tanpa disadari bagian dalam ayam goreng itu masih berdarah-darah. Rasanya ingin muntah tapi saya sudah sangat lapar sekali. Lalu saya datang menghampiri kembali ke toko tersebut, dan mengeluhkan tentang ayam tersebut. Sambutan mereka SANGAT BIASA SAJA SEKALI, seperti tanpa penyesalan salah satu karyawannya hanya mengambil, dan berkata "nanti kami antar pak". Kemudian dengan perasaan agak kesal saya kembali duduk, dan tak lama kemudia datanglah chicken wing itu, diantar oleh managernya dan ia meminta maaf. Saya bilang, saya tidak mau makan ayam ini lagi karena saya tidak percaya anda memasaknya dengan benar. Dan sang manager itu hanya memberikan solusi, "kalo mau ganti menu, bapak TAMBAH UANG lagi". Waaah.. saya sangat emosi mendengar itu. Namun partner-partner saya mengingatkan untuk tidak membersar-besarkan masalah tersebut. Maka saya coba makan ayam itu. Dan, ya memang ayamnya tidak MENTAH lagi seperti yang pertama, tetapi sikap karyawan dalam menghadapi keluhan yang menurut saya agak serius itu terkesan seperti biasa sajah. Lalu saya berkicau di twitter, beserta fotonya. Lalu sekitar 4 hari kemudian, twit saya diMention dengan meminta nomer saya dan sekitar 3 hari berikutnya ada yang menelpon saya mengaku manager operasional restoran tersebut, dan meminta maaf atas kelalaian tersebut dan ingin memberikan voucher makan secara cuma-cuma. Menurut saya itu tetap solusi bodoh, karena saya sudah trauma dan tidak akan pernah makan di restoran itu lagi, jadi voucher makan di restoran itu adalah hal terbodoh yang bisa saya terima. Akhirnya saya tolak, lalu orang itu juga berkata bahwa hampir semua karyawan dan manager restoran itu sudah dimutasi. Terus, saya bangga gitu? Atau saya puas? Terus saya percaya jika itu terjadi? Saya rasa tidak adalah jawaban paling tepat untuk itu semua. Dan hal seperti ini sering terjadi di banyak restoran atau coffee house di Jakarta, namun terkadang orang terlalu malas untuk komplen karena takut dibilang cerewet atau bawel, atau ada beberapa teman saya yang memang benar-benar takut jika komplen maka sang pelayan akan melakukan hal yang konyol seperti memasukan AIR PEL ke dalam minuman. Hal ini sungguh terjadi, namun tidak pada saya. Teman saya yang bekerja di sebuah gerai kopi melakukan hal ini karena seorang tamu mengeluhkan tentang rasa minuman yang ia buat, dan terjadi beberapa kali. Akhirnya karena emosi ia memasukan air cucian pel ke dalam minuman, dan tertawa di balik gerainya saat melihat sang tamu meminum minuman "istimewa" tersebut. Menurut saya ini sudah gila. Pertama karena kualitas pekerja di Jakarta masih jauh di bawah standar, terutam untuk pekerjaan yang berkaitan dengan pelayanan. dimana masih banyk orang-orang yang bukan sejatinya bekerja di bidang ini namun karena keterbatasan lapangan kerja mereka melakukan pekerjaan-pekerjaan ini karena terpaksa. Alhasi, kualitas pelayan yang menjadi korban dari keadaan ini. Kedua adalah masalah lemahnya pengawasan dari instansi pemerintah yang berkaitan dengan standarisasi kualitas pelayanan restoran dan tempat sejenis. Jadi memang makanan atau minuman yang disajikan tidak memiliki standar kualitas tertentu kecuali standar kualitas dari franchiser yang umumnya dari luar negeri. Yah, semoga kedepannya masih ada perusahaan atau pemerintah sendiri yang peduli tentang hal ini. Kami membayar cukup mahal untuk makanan dan minuman ini, masa dikasih air cucian pel?? Semoga tidak terjadi di tempat lain yah.. amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar