Minggu, 14 Oktober 2012

Sosialita, Cinta dan Rock and Roll

Berkat menunggu yang begitu lama, dan membosankan akhirnya tulisan inipun muncul. Entah mengapa saya sangat tertarik dengan perilaku orang baik secara individu maupun secara berkelompok. Hari ini saya sedang menikmati kegiatan menunggu itu di sebuah kedai kopi di sebuah mall besar di Jakarta Selatan. Setelah memesan minuman, yang sebenenarnya bukan kegemaran saya, blended green tea, saya memutuskan untuk duduk di sebuah meja (yang ada bangkunya tentu) yang terletak dekat dengan booth coffee makernya, yang mana biasanya saya tidak pernah suka duduk di tempat yang menurut saya terlalu frontal seperti ini. Biasa saya lebih memilih untuk duduk di tempat yang tersembunyi atau paling tidak  agak tertutup, saya agak pemalu (yea, right). Saya memutuskan untuk duduk di tempat tersebut karena saya tertarik dengan segerombolan ibu-ibu yang tidak terlalu tua namun juga tidak muda. Mereka berlima sedang duduk dan berbincang layaknya ibu-ibu khas daerah sini.  saya tidak dapat mendengar jelas apa isi percakapan mereka karena memang di sisi lain saya sedang berkonsentrasi pada hal lain. Mereka tidak seperti ibu-ibu yang biasa saya lihat di mall. Setelah berbincang cukup lama, mereka pun mengakhiri percakapan dengan BERDOA. Ya, mereka berdoa selayaknya mereka habis beribadah atau melakukan siraman rohani. Hal ini yang membuat saya cukup terkejut, karena hal seperti ini tidak biasa dilakukan, namun jika dilakukan akan sangat keren sekali. 

Intinya adalah, bahwa saya yang seorang skeptis dan sinistis terhadap lingkungan sosialita yang sebenarnya bukan merupakan dunia yang terlalu jauh dari kehidupan saya dapat juga merasakan bahwa tiap karakter tidak terlalu bergantung dan dapat dengan mudah terpengaruh oleh lingkungannya. Lingkungan pekerjaan dan kegiatan saya berkaitan dengan sosialitas yang memang memiliki akar pemikiran akan sebuah standar yang ketat dan abosulit. Ada begitu banyak logika yang kemudian luntur oleh kebutuhan sosial, yang mana hal ini telah menjadi lebih tinggi derajatnya dari kebutuhan sandang itu sendiri, dan pangan tentunya. Kebutuhan sosial ini telah menjadi tonggak perubahan ekonomi dan membuat segalanya menjadi drastis, drastis akan perubahan dan drastis akan tingkatan kebutuhan. Mungkin sejatinya telpon genggap seperti blackberry bukan merupakan kebutuhan utama kaum ibu yang setiap harinya mengurus anak dan rumah tangga, namun kini kebutuhan sosial yang bersifat prestis telah mengalahkan kebutuhan natural itu. Saya pernah berbicara dengan rekan saya dari Jerman, Inggris dan Australia, dan mereka semua datang pada sebuah kesimpulan yang sama dimana mereka cukup terkejut akan aktifitas para kaum ibu di Indonesia dengan smartphone mereka. Karena memang sejatinya, Blackberry adalah sebuah Email receiving gadget yang bisa digunakan untuk telpon, namun sekarang berubah fungsi. Dan seperti semua "pelanggaran" fungsi lainya hal ini menjadi maklum. 

Kadar ekstentrik dari sebuah tingkah laku sosial ini juga semakin merajah di  kalangan muda, terutama di kota-kota besar. Saya bertemu dengan beberapa anak sekolah dan masih berseragam sekolah di sebuah mall besar di Jakarta Selatan dan saya agak memperhatikan penampilan mereka yang tidak menggunakan tas sekolah, berpakaian layaknya menggunakan seragam kerja, dan bertingkah bagi seorang wanita dewasa. Hal ini  membuat saya semakin berpikir skeptis tentang kualitas manusia Indonesia di masa yang akan datang, dengan nalar yang masih terbelakang remaja-remaja ini semakin tenggelam dalam sebuah jebakan dimensi kebutuhan yang senantiasa diciptakan oleh para produsen barang-barang kebutuhan sosial. Apakah ini akan menjadi akhir dari tabiat bangsa Indonesia yang terkenal akan nilai-nilai anti kemapanan dan penuh dengan kesederhanaan? Atau mungkin hal ini hanyalah sebuah hal yang memang selalu dipandang demikian dari sebuah generasi ke generasi berikutnya. Apakah ada semacam rasa takut yang ditimbulkan oleh perubahan ini? Tidak semua orang memang dapat menerima perubahan, mungkin generasi di atas saya juga akan berkata demikian. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar